Category Archives: ARTIKEL

MAKNA PERAYAAN HARI SUCI GALUNGAN

Oleh : Made Awanita

 Pupuh Sinom

Becik malih ya kawitang

Ne madan Dharma walinin,

Dharma marti kepatutan,

Anggon kanti jroning urip,

Yaning patute marginin,

Sinah rahayu kapangguh,

Nging yan Adharma jalanang,

Kewehe banget puponin,

Ngawe lacur,

Bulak balik manumadi.

 

 

Om Swastyastu,

 

Umat sedharma yang saya hormati, apabila kita mendengarkan orang-orang yang sedang menyanyikan lagu-lagu daerah atau lagu-lagu keagamaan, misalnya macapat, kidung, wirama (istilah nama-nama tembang di Bali), dan lain sebagainya, serasa mengingatkan kita pada masa-masa kecil, ketika mendengarkan orang saat melantunkan pupuh-pupuh gaguritan, kidung, atau wirama. Berangkat dari hal tersebut, kiranya tulisan ini ada baiknya didahului dengan syair-syair pupuh Sinom di atas, yang tersurat dan dikutip dari Gaguritan Dharma Prawerti, oleh Ida Pedanda Kamenuh, yang berkait dengan pemaknaan Galungan. Tujuannya adalah untuk lebih memberikan inspirasi tentang pemaknaan Galungan dimaksud.

Sebagaimana kita ketahui bahwa kita hidup sebagai manusia (makhluk yang utama), agar selalu berpegang kepada Dharma. Agar betul-betul Dharma ini dapat dijadikan pegangan dan landasan dalam setiap tindakan. Karena dengan Dharma, manusia akan pasti hidupnya selamat, damai dan bahagia, serta setelah meninggal ia akan mendapatkan Sorga dan bahkan bisa mencapai Moksa. Itulah sebabnya kita patut berusaha memerangi adharma, yaitu enam musuh, terutama musuh-musuh yang ada di dalam diri manusia itu sendiri yang disebut dengan Sadripu, yaitu Kama (hawa nafsu), Lobha (keserakahan), Krodha (kemarahan), Mada (kemabukan), Moha (kebingungan), dan Matsyarya (sifat dengki atau irihati), sebagai lawan dari Dharma. Karena seseorang yang dikuasai oleh Adharma, ia akan hidup sengsara dan terjerumus ke dalam neraka. Inilah sesungguhnya makna dari pada perayaan hari Galungan. Galungan adalah  salah satu hari suci agama Hindu yang jatuh pada setiap hari Rabu Kliwon Wuku Dungulan, yang perayaannya diperingati sebagai hari kemenangan Dharma atas Adharma.

Hari Galungan yang kita rayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan itu, sesungguhnya adalah sebagai rasa cetusan kebebasan dari belenggu dan merupakan hari untuk memperingati kebenaran (dharma) terhadap ketidakbenaran (adharma), sehingga Galungan dapat merupakan suatu perjuangan hidup, yakni perjuagan manusia di dalam mempertahankan hidupnya dan untuk mewujudkan cita-citanya dengan menegakkan kebenaran, baik ke dalam dirinya maupun ke luar terhadap alam lingkungannya. Proses perjuagan ini terjadi secara terus-menerus dalam sepanjang masa, sejak zaman dahulu kala sampai dengan sekarang dan bahkan sampai pada masa yang akan datang.

Galungan yang kita rayakan setiap 210 hari sekali (6 bulan sekali melalui perhitungan “Wuku”), sebagai peringatan kemenangan dharma melawan adharma (kebatilan) itu, secara tradisionil perayaannya dilatarbelakangi oleh karena adanya penyerangan Sang Kala Tiga yang melambangkan ketidakbenaran (adharma), yang selalu ingin menyerang, menundukkan (menaklukkan), dan menguasai diri manusia.

Adapun Sang Kala Tiga yang dimaksud adalah Sang Kala  Galungan, Sang Kala Dungulan dan Sang Kala Amangkurat. Diceritakan bahwa ketiga Bhuta ini, secara bergiliran ingin menyerang manusia, yakni mulai terjadi tiga hari secara berturut-turut sebelum Galungan dirayakan. Pada hari Minggu Paing Wuku Dungulan, terjadi penyerangan oleh Sang Kala Galungan. Selanjutnya pada waktu Senin Pon Wuku Dungulan (besoknya), penyerangan dilakukan oleh Sang Kala Dungulan. Sedangkan Sang Kala Amangkurat, melaksanakan penyerangannya pada hari Selasa Wage Wuku Dungulan (sehari sebelum hari raya Galungan). Walaupun bertubi-tubi umat manusia diserang, ingin ditundukkan dan dikuasai oleh ketiga bhuta kala itu, namun berkat keteguhan iman dan ketaqwaan (sraddha dan bhaktinya) kepada Hyang Widhi Wasa, usaha ketiga bhuta kala tersebut gagal. Dan ini berarti kemenangan ada dipihak umat manusia, yang diwujudkan sebagai lambang dari kebenaran itu. Atas dasar kemenangan itulah, maka pada hari Rabu Kliwon Wuku Dungulan dirayakan sebagai hari kemenangan dan tegaknya kebenaran (dharma). “Satwam eva jayate”, artinya kebenaran pasti menang. Hal ini terjadi berulang-ulang setiap 210 hari sekali.

Hikmah dan makna apakah yang dapat kita petik dari perayaan Galungan yang kita rayakan dalam setiap 210 hari itu. Sesungguhnya Galungan adalah melukiskan betapa dan bagaimana perjuangan manusia di dunia ini untuk mempertahankan dan melanjutkan hidupnya serta jenis atau keturunannya. Perjuangan itu terjadi secara terus-menerus dalam dua segi, yakni perjuangan secara mikrokosmos (buana alit) dan perjuangan secara makrokosmos (buana agung). Jika perjuangan itu kita lihat dari segi mikrikosmos (buana alit), maka perjuangan manusia itu terjadi di dalam dirinya sendiri.

Di dalam diri manusia terdapat banyak musuh, yakni Sad Ripu dan berbagai nafsu rendah yang dapat menghancurkan diri manusia sendiri. Perjuangan sifat-sifat jahat dan buruk dengan sifat-sifat baik manusia, akan terjadi setiap saat dan terus-menerus dalam diri kita. Pergulatan antara ahamkara (sumber kejahatan) dengan budhi (sumber kebaikan) dalam diri kita terjadi setiap saat. Dan sesungguhnya perjuangan ini adalah satu pergulatan yang paling sulit dapat diatasi. Sebab, jika sraddha dan bhakti (iman dan taqwa) tidak kuat maka manusia itu akan dikuasai oleh ahamkaranya. Ini berarti bahwa secara keseluruhan manusia itu dikuasai oleh nafsu-nafsunya yang jahat yang disebut “ripu” itu, sehingga dapat terjerumus ke dalam penderitaan yang teramat sangat. Karena itu, ketiga Bhuta Kala yang dilukiskan dalam mithos tadi, harus dapat kita tundukkan dengan cara mewujudkan kesadaran dan bakti kita kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan dengan pengendalian diri yang lebih ketat. Ada pun kesadaran dan bakti serta pengendalian diri, merupakan usaha yang amat baik untuk menundukkan segala musuh (ripu) yang ada di dalam diri kita, yang berbentuk nafsu-nafsu rendah, yang dapat menjerumuskan kita ke dalam jurang kehancuran. Nafsu-nafsu yang tergolong ripu terdiri dari enam bagian atau Sad Ripu dan meliputi  Krodha adalah kemarahan, Moha adalah kebingungan, Lobha adalah keserakahan, Kama adalah hawa nafsu, Mada adalah kemabukan atau kesombongan (sombong karena kepandaian, karena kecantikan, karena keturunan/kebangsawanan, karena kekayaan, karena keremajaan, karena minuman keras dan karena kemenangan), dan Matsarya adalah sifat iri hati yang dapat menimbulkan perbuatan-perbuatan kejam, misalnya membakar hak milik orang lain, meracun, memfitnah, mengamuk, memperkosa dan melakukan ilmu sihir/hitam. Sifat-sifat jahat atau rendah tersebut, harus dapat kita kendalikan dan kuasai, dengan penuh kesadaran dan bakti kita kepada Hyang Widhi Wasa serta dilengkapi dengan pelaksanaan tapa, brata, yoga dan samadhi. Dengan perjuangan itu, kita akan mampu menegakkan dharma di dalam diri kita masing-masing, setidak-tidaknya kita dapat bebas dari kekuasaan adharma yang selalu ingin menyerang dan menundukkan serta menguasai diri kita sendiri. Galungan yang kita rayakan pada setiap hari Rabu Kliwon wuku Dungulan, di samping merupakan peringatan kemenangan dharma (kebenaran) atas adharma (kebatilan), juga bahwa Galungan tersebut memperingati kita, agar kita selalu sadar dan waspada terhadap usaha Sad Ripu dan berbagai nafsu yang tergolong jahat yang digambarkan sebagai tiga Bhuta Kala tadi agar kita terhindar dan bahkan dapat sebaliknya, yakni menguasainya.

Agaknya apa yang tersurat di dalam Weda, cukup memberikan isyarat kepada kita agar selalu sadar dan waspada kepada ripu-ripu yang ada di dalam diri kita itu. Hal tersebut dinyatakan dalam Bhagavadgita III. 34, sebagai berikut : “Hawa nafsu dan kebencian itu, berada pada indriya, sebaiknya jangan sampai seorangpun berada di bawah pengaruh kedua perasaan dan jalan kehidupan”

Lebih lanjut di dalam Bh. G. II. 64, dinyatakan : Bagi yang punya disiplin terhadap indriyanya, bergerak diantara semua objek panca indriyanya, tetapi tidak berpengaruh olehnya, malah menguasainya dengan Atmannya, ia menjalani kehidupan yang damai”. Sedangkan Bh. G. V. 23, 26 menyebutkan sebagai berikut :  “Ia yang mampu bertahan di dunia ini dan merasakan kebebasan dari badan yang dikungkung oleh nafsu dan kemarahan dan malah bisa menyelaraskan keduanya itu, ia adalah orang yang bahagia sejati. Kedamaian yang abadi bersemayam pada mereka yang tahu siapa diri mereka, dan dapat bebas dari rasa nafsu dan marah, mereka bersifat damai dan berpikiran damai”.

Demikian pula di dalam Bh. G. XVI. 21, dinyatakan sebagai berikut : “Pintu neraka ada tiga buah yang menyebabkan kehancuran diri, yaitu hawa nafsu, kebencian dan kelobhaan; hendaknya engkau (manusia) menghindari ketiga sifat ini”. Dengan demikian, betapa sulitnya, bila kita menginginkan kehidupan yang damai, bahagia lahir batin di dunia fana ini dalam rakhmatnya Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), karena itu, marilah kita bersama-sama mengusahakan dengan sekuat tenaga untuk mengalahkan segala hawa nafsu, kemarahan, kelobhaan (keserakahan), irihati, kesombongan dan kebingungan itu, sambil memupuk pikiran, perkataan dan perbuatan yang mendatangkan kebaikan bagi sesama hidup kita. Penguasaan terhadap Sad Ripu dan nafsu-nafsu yang tergolong jahat sangat penting untuk dilakukan sehingga hati kita masing-masing bisa terhindar dari segala godaan, terhindar dari maksud-maksud yang tidak baik terhadap sesama hidup dan lingkungan alam sekitar kita.

Selanjutnya, Galungan sebagai perjuangan kita dalam dunia makrokosmos (buana agung), di sini kita harus selalu berusaha dan meningkatkan pemeliharaan alam lingkungan hidup agar tetap harmonis. Karena sesungguhnya, alam lingkungan itu adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia itu. Tentunya dalam hal ini pun kita memerlukan penguasaan dan pengendalian atas nafsu-nafsu kita. Bila orang yang dapat menaklukan musuh sebanyak seribu orang (musuh) adalah disebut pahlawan, maka orang yang dapat menaklukan dirinya sendirinya pun juga disebut pahlawan. Bahkan menundukkan musuh-musuh yang ada di dalam diri sendiri (yang tergolong Sad Ripu itu), sesungguhnya tidaklah semudah menundukkan seribu musuh yang ada di dalam alam lingkungan. Maka dari itu penguasaan dan pengendalian diri, sungguh amat mutlak diperlukan dalam rangka pembentukan watak dan kepribadian yang lebih serasi dengan tantangan zaman, yakni dalam rangka menumbuhkan sikap hidup yang seimbang, serasi, berkepribadian utuh, memiliki moralitas dan integritas sosial yang tinggi serta manusia yang bakti (taqwa) kepada Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Kuasa). Sekian.-

 

Om Santih Santih Santih, Om                         

AKTUALISASI NILAI-NILAI NYEPI, TAHUN BARU SAKA 1939

Oleh : Made Awanita, S.Ag., M.Pd *

  1. Pengantar

Nyepi adalah satu-satunya hari raya Hindu yang telah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia sebagai hari libur nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 1983, tanggal 19 Januari 1983.  Nyepi diperingati sebagai pergantian Tahun Baru Saka, yang perayaannya dilakukan dengan cara melaksanakan penyepian, yaitu dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian, yakni Amatigeni (tidak menyalakan api), Amatikarya (tidak bekerja), Amatilelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak mengumbar hawa nafsu dan berpuasa).

Nyepi ini dilaksanakan dengan penuh kesepian dan keheningan melaksanakan brata penyepian tersebut dalam rangka mengintrospeksi diri. Pada hari Nyepi ini, umat Hindu melakukan re-evaluasi terhadap aktivitas yang mereka telah lakukan selama setahun yang lalu untuk diproyeksikan pada tahun-tahun yang akan datang. Nyepi sebagai hari penemuan jati diri, dan hal ini akan dapat diwujudkan apabila manusia memiliki dan mengamalkan ajaran sraddha dengan mantap dan bhakti yang tulus kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam suasana hening, ketika emosi, ambisi dan nafsu terkendali, pikiran diarahkan hanya untuk merenungkan keagungan-Nya, maka wajah sejati akan nampak dengan jelas.

 

  1. Pengertian Nyepi

Di Indonesia hari Nyepi ini diperingati sebagai pergantian Tahun Baru Saka. Nyepi adalah satu-satunya hari raya Hindu yang telah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia sebagai hari libur nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 1983, tanggal 19 Januari 1983. Penggunaan Tahun Baru Saka ini adalah merupakan pengaruh yang berasal dari India, yaitu sejak mulai bangkitnya toleransi antar umat beragama di India pada tahun 78 Masehi, yakni sejak seorang raja dari dinasti Kusana yang bernama raja Kaniska I naik tahta kerajaan. Beliau merupakan seorang raja yang sungguh sangat bijaksana. Selanjutnya, sejak tahun 79 Masehi diresmikannyalah tahun Saka ini sebagai tonggak sejarah yang menutup permusuhan antar suku-suku bangsa di India sebelumnya. Semenjak saat itu pula bangkitlah toleransi antar umat beragama. Hal ini dibuktikan dari raja Kaniska I yang beragama Hindu memperhatikan kehidupan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Sejak diresmikannya tahun Saka ini oleh raja Kaniska I, tahun ini kemudian dipakai pula sampai ke India Utara dan bahkan terus berkembang sampai ke Indonesia.

Kemudian sejak tahun 1958 pemerintah India menetapkan tahun Saka sebagai tahun nasional India. Karena luasnya wilayah dan beragamnya perhitungan tahun di India, walaupun telah memiliki tahun nasional, ternyata masyarakat India tidak serentak melaksanakan tahun Saka itu. Kini Tahun Baru Saka ini dirayakan tiga kali dalam setahun, yaitu (1) Tahun Baru Nasional India (Saka) dirayakan tiap-tiap tanggal 22 Maret, (2) Penganut solar sistem (Meshadi) dengan purnimanta merayakan tahun baru Saka ini pada Purnama Chittirai/Vaisaka (April) terutama di wilayah suku Tamil Nadu sesuai dengan awal tahun Saka yang bertepatan dengan Purnama; dan (3) Penganut luni-solar sistem merayakannya pada tiap-tiap Chaitra Amavasya (Tilem Chaitra/Kasanga) yang umumnya jatuh pada bulan Maret. Umat Hindu di Indonesia menganut sistem Surya-Chandra Pramana, solar dan lunar sistem, sebagai satu kesatuan untuk menghitung penanggalan dan hari raya Hindu, terutama jatuhnya tahun baru Saka. Surya Pramana (solar system) dipergunakan untuk menentukan Sasih Kesanga atau bulan Maret menurut perhitungan Tahun Masehi, sedangkan Chandra Pramana (lunar system) dipergunakan untuk menentukan tangga1 1, yaitu Tilem atau bulan mati. Demikianlah, dengan perhitungan yang amat cermat pada bulan Maret, bulan mati atau Tilem Sasih Kesanga, Matahari, Planit Bumi dan Bulan berada tepat dalam satu garis lurus di atas Khatulistiwa. Umat Hindu percaya, bahwa posisi Matahari jika berada di bagian Utara dari garis Khatulistiwa selama enam bulan membawa musim yang lebih baik dan penuh harapan bagi umat manusia.

Tilem Sasih Kesanga pada bulan Maret, di mana Matahari mulai beranjak menuju ke arah Utara dari Khatulistiwa, adalah pertanda baik dan merupakan saat-saat yang amat baik untuk melakukan pembersihan atau penyucian diri, sebagaimana diungkapkan dalam Bhagavadgita VIII.24, sebagai berikut : “ Di kala api, cahaya, siang hari, purnama dan enam bulan musim matahari ada di utara, apabila pada saat itu ajal tiba, orang yang mengetahui Brahman pergi kepada Brahman”. Sloka tersebut menekankan bahwa apabila tugas dan kewajiban kita di dunia ini telah kita rampungkan  sesuai petunjuk Hyang Widhi dan bila ajal telah tiba dengan mengetahui Brahman, kita akan bersatu, menunggal dengan Brahman, Hyang Widhi atau Tuhan Yang maha Kuasa.

Karena demikian, di dalam kehidupan ini, bagi umat Hindu  ibadah agama harus  dilakukan dengan  : (1) Yajna, yakni dengan berbhakti atau kebhaktian dan dengan upacara persembahyangan; (2) Karma, yaitu dengan bekerja atau berkarya atau dengan melakukan tugas kewajiban; (3) Dana, yakni dengan memberi sedekah, sumbangan (pemberian suka rela); dan (4) Tapa berupa renungan suci, mpengendalian diri atau pengekangan hawa nafsu atau upawasa dan menyucikan diri.  Demikian saudara.

 

  1. Tujuan Nyepi

Tujuan tertinggi bagi umat Hindu dalam kehidupan adalah meningkatnya kualitas kehidupan sebagaimana digariskan dalam kaidah-kaidah hari suci Nyepi. Sesungguhnya semua makhluk hidup yang ada di muka bumi ini membutuhkan adanya Nyepi (suasana sepi), karena dalam suasana nyepilah timbulnya pertumbuhan dalam setiap makhluk hidup. Tumbuh-tumbuhan akan bergerak atau tumbuh adalah pada saat-saat malam hari (saat-saat gelap dan ketika tidak bergerak). Demikian pula makhluk-makhluk hidup lainnya, secara anatomis, terjadinya pertumbuhan itu adalah ketika ia tidak bergerak (saat-saat tidur, tenang, tidak bergerak dan saat-saat gelap). Demikianlah, pada saat-saat suasana yang heneng, hening dan henung; saat-saat suasana yang sepi, tenang, gelap dan tidak bergerak, saat-saat panca indriyanya terkendali secara ketat, manusia akan dapat meningkatkan pendakian dirinya ke arah kesucian lahir dan bathin.

Dalam suasana yang demikianlah manusia mampu menemukan jati dirinya (mulat sarira), sehingga ia dapat mencapai tujuan tertinggi di dalam hidupnya berupa Moksartham Jagathita. Itulah sebabnya maka pada hari suci Nyepi, kita patut melaksanakan tapa, brata, yoga dan samadhi, dengan mengkondisikan suasana yang sepi, tenang, tidak bergerak serta dengan mengendalikan panca indriya secara ketat; dengan suasana, heneng, hening dan henung; dengan pemusatan sabda, bayu dan idep; dengan menyatukan cipta, rasa, karsa dan karya maka pendakian diri ke arah hidup suci lahir dan bathin akan dapat dicapai. Oleh karena demikianlah, maka dalam rangka menyongsong hari suci Nyepi ini, kita kondisikan suasana itu agar tenang, gelap, lampu dimatikan dan wajib melakukan Catur Brata Nyepi (amatigeni, amatikarya, amatilelungaan dan amatilelanguan) selama 24 (dua puluh empat) jam dalam setiap tahun. Demikian saudara.

 

  1. Rangkaian Nyepi

Rangkaian Nyepi  merupakan cara-cara atau sistim perayaan hari Nyepi yang dilakukan melalui proses, yang dikenal dengan rangkaian hari Nyepi, yaitu (1) Melasti atau Melis yang juga disebut Mekiis; (2) Tawur Agung Kasanga; (3) Sipeng (Nyepi); dan (4) Ngembak Geni.

 

  1. Melasti atau Melis/Mekiis.

Pada umumnya Melasti atau Melis/Mekiis ini dilaksanakan tepat pada Trayodasa Krsnapaksa Sasih Kesanga atau pada panglong ping 13 Sasih Kesanga, yang pada tahun 2017 ini jatuh pada hari Sabtu, 25 Maret 2017. Hari ini adalah hari yang sangat baik untuk melakukan kegiatan Melasti atau Melis/Mekiis; dan atau dapat pula dilakukan pada tanggal 26 Maret 2017, yaitu sehari sebelum Tawur Kesanga. Hal ini disesuaikan dengan desa, kala dan patra (siatuasi dan kondisi) umat masing-masing. Pada perakteknya, saat Melasti atau Melis/Mekiis ini dilaksanakan upacara pembersihan atau penyucian segala sarana dan prasarana, yaitu prangkat alat-alat yang akan dipergunakan untuk persembahyangan atau meditasi. Biasanya upacara Melasti atau Melis/Mekiis ini dilakukan di laut atau di tempat-tempat mata air terdekat dan dapat pula dilakukan di sungai (sesuai dengan desa, kala dan patra umat masing-masing). Bagi mereka yang dekat dengan laut, Melasti atau Melis/Mekiis itu dilaksanakan di laut, sedangkan yang jauh dari laut mereka dapat melaksanakannya di sungai atau pada mata air yang terdekat yang jelas upacara Melasti atau Melis/Mekiis itu dilakukan menuju sumber air. Sebagaimana kita ketahui, bahwa sumber air yang terbesar adalah laut. Semua sungai pasti mengalir ke laut. Dari sini pulalah adanya siklus peredaran air yang memberikan hidup dan kehidupan alam semesta ini. Jadi atas dasar itu, maka air sebagai pelebur kotoran. Kita perhatikan, bahwa dalam setiap hari semua sungai-sungai mengalirkan berbagai kotoran ke laut, tetapi setelah sampai di laut menjadi sirna kotoran tersebut. Apabila seandainya air laut itu tidak berfungsi sebagai pelebur, maka semestinya laut tersebut menjadi tumpukan dari berbagai kotoran dan penyakit. Namun kenyataannya malah sebaliknya, orang-orang sengaja mandi ke laut justru untuk kesehatan. Demikianlah sebabnya, mengapa umat Hindu melaksanakan upacara Melasti atau Melis/Mekiis itu ke laut atau ke sumber mata air, dengan tujuan memohon kepada Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Baruna berupa thirta pembersihan.

 

  1. Tawur Kesanga.

Tawur Kesanga jatuh pada Pancadasi Kresnapaksa Sasih Kesanga, yang pada tahun 2017 ini jatuh pada hari Senin, 27 Maret 2017. Umumnya, Tawur Kesanga ini disebut juga hari Pangerupukan, yaitu diadakannya upacara tawur atau mecaru (korban suci) untuk menghilangkan unsur-unsur kejahatan yang merusak kesejahteraan umat manusia. Pada hari ini, umat Hindu bersiap-siap melepaskan tahun lama dengan memberikan korban suci agar segera kekuatan yang negatif tidak mengikuti manusia melangkah ke tahun yang baru. Di samping itu juga, upacara tawur ini juga bertujuan untuk menormalisir unsur-unsur Panca Mahabhuta, yaitu tanah, air, panas, udara dan ether, yakni lima unsur yang menjadi cikal bakal alam makrokosmos (alam semesta) dan mikrokosmos (badan makhluk hidup). Jadi upacara ini ditujukan kepada Bhuta Kala agar tidak mengganggu keharmonisan hidup, tidak mengganggu kelestarian alam, namun agar terjadi adanya keharmonisan, hidup berdampingan, selaras, serasi dan seimbang. Upacara Tawur ini mengandung suatu pengertian dan tuntutan agar kita di dalam kehidupan ini :

  • a Kita merasakan hutang budhi terhadap Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Kuasa), yang telah beryajna menciptakan dunia beserta dengan segala isinya sehingga kita dapat menikmati kemakmuran, kebahagiaan dan keselamatan;
  • b Dituntut melalui simbul di dalam Tawur Agung ini, agar kita berani berkorban mempersembahkan sebagian harta milik kita untuk kebajikan sebagai tawur atau pembayaran atas hutang budhi kita;
  • c Melalui upacara tawur, manusia diharapkan dapat mengorbankan sifat-sifat kebinatangannya, yakni unsur-unsur sifat Sad Ripu, Sad Atatayi, Sapta Timira dan lain sebagainya, yang dapat menjerumuskan dan menyengsarakan hidup manusia. Karena manusia yang dikuasai oleh sifat-sifat kebinatangannya, ia akan jauh lebih buas dari pada binatang itu sendiri. Mari kita perhatikan binatang Singa, dia (Singa itu) adalah binatang buas, tetapi sebuas-buasnya Singa, dia tidak pernah membunuh anaknya atau memakan sesama Singa. Demikian pula, apabila dia dapat menerkam mangsanya, tidak pernah mereka makan sendiri, dia akan makan secukupnya, selebihnya semua makhlyuk lainnya ikut menikmatinya. Berbeda dengan ular, dia (ular itu) akan menangkap mangsanya dan menelan bulat-bulat tanpa sisa, tetapi begitu habis makan, meskipun datang mangsanya lagi ular tersebut tidak akan mau makan lagi. Berbeda halnya dengan manusia yang serakah, dia cenderung melebihi dari sifat-sifat binatang. Inilah yang perlu ditinggalkan, sehingga di dalam kehidupan ini kita mampu meningkatkan kualitas diri kita ke arah manusia yang “Sujana”.
  • d Upacara Tawur yang bermakna pembayaran tersebut, bertujuan juga untuk menyeimbangkan atau mengharmoniskan kondisi lingkungan, sehingga di suatu tempat tidak ada berlebihan namun di tempat yang lain kekurangan. Keharmonisan dan keseimbangan inilah yang disebut dengan istilah “Caru”, yang artinya indah, cantik, harmonis, serasi, selaras dan seimbang; dan
  • e Sebagaimana halnya peringatan hari kemerdekaan bangsa Indonesia yang jatuh pada setiap tanggal 17 Agustus, yang bertujuan untuk meningkatkan rasa patriotisme dan membangkitkan rasa hutang budhi kepada para pahlawan kusuma bangsa yang telah gugur dan berkorban berjuang untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Demikian pulalah halnya dengan upacara keagamaan, hanya merupakan symbol bhakti. Karena jika hanya dengan melakukan upacara-upacara saja tidaklah secara otomatis kita akan dapat mencapai adanya kemakmuran, keselamatan dan keharmonisan itu. Upacara-upacara tersebut hanyalah merupakan tuntutan agar kita selalu sadar dan rasa bhakti bertambah mantap. Karena demikian, di samping kita harus melakukan upacara tawur, maka harus pula disertai dengan usaha, iman dan takwa (sradha dan bhakti) yang ditumbuhkembangkan di dalam diri kita masing-masing. Upacara-upacara keagamaan ini akan baru ada artinya jika dilanjutkan dengan perbuatan-perbuatan riil, seperti memelihara lingkungan hidup dengan baik, menumbuhkan rasa kasih sayang kepada semua ciptaan Tuhan dan lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta Maha Agung, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

 

  1. Nyepi (Sipeng)

Hari Nyepi pada tahun ini jatuh pada hari Senin, 28 Maret 2017. Hari Nyepi, juga disebut Sipeng, yaitu upacara menyambut Tahun Baru Saka. Tepat pada Sipeng (Nyepi) ini, umat Hindu melakukan tapa, brata, yoga dan samadhi sehari penuh (24 jam) mengekang hawa nafsu dengan melakukan upawasa (tidak makan dan tidak minum). Pengekangan hawa nafsu ini diperagakan dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian, yakni Amatigeni, Amatikarya, Amatilelungan dan Amatilelanguan.

  1. Amatigeni

Amatigeni artinya tidak berapi-api atau tidak menyalakan api. Di sini prakteknya, Amatigeni ini dilakukan dengan jalan mematikan api di dapur, api dalam nyala lampu, api dalam rokok dan sebagainya. Namun dalam prakteknya, Amatigeni ditujukan kepada disiplin hidup, yaitu mematikan apinya hawa nafsu, mematikan apinya amarah dan mematikan apinya loba. Hal ini, umumnya diterapkan dengan melakukan puasa (upawasa) dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan dikosongkannya perut dalam berpuasa, proses pencernaan pun disitirahatkandan ini berarti berlangsung juga konservasi energi vital untuk itu. Dengan demikian diharapkan terjadi penghimpunan dan penguatan energi halus atau energi vital (prana). Dengan melaksanakan upawasa dan prayama, yang dalam hal ini diartikan meniadakan pemborosanprana dan sebaliknya menghimpun dan menguatkannya, tak pelak lagi merupakan pasangan sadhana yang paling sesuai. Aktivitas fisikal membutuhkan banyak kalori, tenaga dan energi kasar. Dengan berpuasa suplai tenaga kasar menjadi berkurang, dan ini tentu akan mengurangi dorongan untuk bekerja secara fisik maupun bepergian. Dengan demikian Amatigni merupakan penopang dari laku Amatikarya dan Amatilelungan. Gni ini juga sering dimaknai sebagai apinya nafsu atau keinginan (kama). Kobaran terhadap apinya hawa nafsu atau keinginan (kama) inilah yang mestinya dipadamkan. Kama mengarahkan kita pada setiap aktivitas yang melenakan, sehingga dengan melakukan Amatigni ini, secara implisit juga berarti meniadakan aktivitas yang digerakkan oleh dorongan kama. Dengan menyepikan lelanguan dalam memenuhi tuntutan penikmatan obyek-obyek indriyawi, perasaan dan pikiran, banyak energi vital dapat dihemat.

  1. Amatikarya

Amatikarya dilakukan dengan jalan berhenti bekerja, istirahat penuh dan tidak melakukan kegiatan produktif apa pun. Amatikarya ini lebih memberi penegasan serta memberi penekanan lagi pada non aktivitas fisikal. Mengingat aktivitas fisik umumnya bermula dari dan digerakkan oleh aktivitas mental, aktivitas pikiran dan perasaan, maka aktivitas mental pun seyogyanya disepikan. Dan pada umumnya kesulitannya di sini, karena pikiran yang doyan berkelana kesana kemari dan perasaan dan emosi yang peka terhadap golakan, sebagai reaksi terhadap kontak-kontak indriyawi, sungguh sulit diistirahatkan. Karena demikian dalam melalukan Amatikarya ini, dianjurkan untuk melkukan meditasi (dhyana). Meditasi mententramkan kita secara lahiriah dan bathiniah. Ia mengantarkan kita pada keheningan yang sesungguhnya, seperti yang diharapkan. Melalui meditasilah pemusatan pikiran kepada yang maha tinggi dimungkinkan untuk dapat tercapai.

  1. Amati Lelungan

Amatilelungan, berarti tidak keluar rumah, tidak mengadakan perjalanan (tidak bepergian). Amatilelungan ini secara esoteris diartikan sebagai penghentian berkelananya pikiran. Tidak bepergian secara fisik memang mudah dilakukan, mungkin dengan tidur, namun bukanlah itu yang dimaksudkan. Ketika fisik ini diam, pikiran justru malah menerawang dan berkelana kesana kemari menghampiri obyek-obyek yang digandrunginya. Berbagai bentuk-bentuk pemikiran serta merta bermunculan dan gejolak perasaanpun secara otomatis mengikutinya. Dalam diam mereka justru terundang untuk aktif. Bagaimana cara kita menanggulanginya ? Dengan upawasa dan pranayama dapat membantu dalam menanggulangi hal tersebut, dilengkapi dengan dhyana, praktek-praktek spiritual ini menjadi lebih sempurna. Hanya dengan tidak mengkonsumsi jenis makanan dan minuman tertentu saja, misalnya, bentuk-bentuk pemikiran negatif serta bentuk-bentuk emosi yang destruktif menjadi kehilangan momentumnya. Apalagi dengan upawasa, aktivitas mental juga membutuhkan energi mental yang diperoleh lewat apa yang kita konsumsi. Upawasa akan secara kondusif membantu meditasi. Sementara itu praktek pranayama, yang secara umum diselenggarakan sebagai pengaturan nafas, akan membantu kita dalam menambatkan perhatian hanya pada nafas; apakah itu hanya dengan mengatur keluar dan masuknya udara atau pun dengan hanya memperhatikan mekanisme biologisnya saja. Perhatian yang tertambat, terkonsentrasi pada suatu titik tertentu  (dharana) tidak lagi memungkinkan pikiran lari kesana kemari seperti sebelumnya. Ini ibarat tali kekang bagi seekor kera. Dengan mengambil sikap diam, baik kontak-kontak indriyawi maupun kontak-kontak mental menjadi sangat minim, sehingga gejolak perasaan pun terbatasi.

  1. Amatilelanguan,

Amatilelanguan artinya menghentikan sukaria, yakni tanpa menikmati hiburan atau tontonan dalam berbagai bentuknya atau pula tidak bersenang-senang mengumbar hawa nafsu. Amatilelanguan ini akan berhasil dengan baik dengan menutup semua gerbang indriya sensorik (panca buddhindriya) serta menghentikan aktivitas kelima indriya motorik (pancakarmendriya) ini. Pada prinsipnya, melalui Amatilelanguan, kesebelas indriya (ekadsendriya) lebih mungkin dijinakkan untuk dikendalikan. Dengan demikian kama pun akan kehilangan daya geraknya. Dengan demikian, pengheningan dan pemurnian bathin dapat berjalan seperti yang diharapkan.

Pelaksanaan catur brata Nyepi ini, mengandung makna bahwa pada suatu waktu manusia perlu bercermin ke dalam dirinya sendiri. Dengan heneng, hening dan henung; dengan mendengarkan bisikan hati nurani yang suci, Sang Pribadi yang jujur dan bersih, maka cenderung kita dapat menghindarkan diri dari sifat-sifat kemarahan, keangkaramurkaan, kelobaan (keserakahan), kesombongan, kedengkian dan permusuhan, yang merupakan manifestasi dari sifat-sifat rajas dan tamas yang ada di dalam diri manusia itu sendiri. Dengan Nyepi ini, juga diharapkan dapat memberikan hikmah dan sekaligus wahana untuk usaha-usaha mewujudkan hubungan yang selaras, serasi dan seimbang atau harmonis, terutama hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, manusia dengan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam dan lingkungannya. Demikian saudara.

 

  1. Makna Nyepi

Sesungguhnya hari suci Nyepi ini merupakan momentum yang sangat baik untuk memusatkan pikiran kepada sumber pikiran itu sendiri (Parama Siwa); tidak hanya menghitung-hitung apa yang telah kita lakukan pada tahun-tahun yang lalu (mulat sarira), tetapi yang tak kalah pentingnya adalah penyucian diri secara spiritual agar tercapai ketenangan, kenyamanan, keamanan, kedamaian dan kebahagiaan hidup. Dan yang lebih penting lagi adalah bahwa pendakian spiritual tidak hanya harus dilakukan pada saat-saat melaksanakan Catur Brata Penyepian, tetapi setelah itu, terus menerus secara tekun dan penuh kesadaran patut diusahakan di tengah-tengah godaan dasendriya, yang selalu menghalangi eksistensi sang buddhi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian segala bentuk pikiran (manah), perkataan (vak) dan perbuatan (kayika) kita memancarkan nilai-nilai kesucian, moral dan spiritual.

Penyucian ini memang merupakan inti dari setiap ritual atau upacara yajna. Namun kita tidak berhenti hanya sampai di situ, yang lebih penting adalah perlu adanya upaya dalam diri sendiri untuk selalu mengusahakan pendakian spiritual agar tercapai puncak tertinggi. Pada puncak tertinggi itu, apabila kita kasihaning dening Hyang, kita tidak lagi bertengkar atau bermusuhan satu dengan yang lainnya, karena perbedaan itu akan sirna. Dari mana kita mendaki, siapa namanya, dari mana asalnya dan sebagainya. Semua lembah, daratan, gunung dan ngarai terlihat sama. Semua perbedaan lebur jadi satu. Tetapi apabila pendakian kita baru sampai pada tahap intelek atau bahkan ego, kita justru sering berdebat bahkan berkelahi pada unsur-unsur kulit luarnya bukan pada esensinya. Perbedaan itu kadang sering merepotkan kita. Karena itu pada hari suci Nyepi ini, melalui pelaksanaan catur brata penyepian, sangat tepat untuk memulai upaya pendakian spiritual dengan selalu mengarah pada hidup ke depan dan bukan kembali ke belakang, untuk itu diperlukan adhyatmika kita, sehingga kita selalu jagra dan waspada pada godaan-godaan baik yang timbul dari dalam diri kita sendiri maupun yang datang dari luar. Jadi, makna hari Nyepi sesungguhnya adalah merenungkan posisi diri kita yang sejati, antara diri kita sendiri (bhuwana alit) dengan alam semesta beserta segala isinya (bhuwana agung).

Pada hari suci Nyepi ini, dalam suasana yang heneng, hening dan henung, umat Hindu mencari, menggali dan menciptakan rasa damai, rasa tenang, aman, nyaman dan kesehatan mental melalui tapa, brata, yoga dan samadhi. Ini merupakan proses penyucian diri sebagai akibat dari kesadaran diri, bahwa pencarian dan penggalian diri kita bukanlah perolehan material semata, tetapi lebih dari itu, yaitu pencapaian emansipasi jiwa, sat cit ananda. Bagaimana kita bisa menempatkan diri kita harmonis dengan alam dan bukan berhadapan atau melawan alamsemesta. Keselarasan, keserasian dan keseimbangan atau keharmonisan memang selalu diperhatikan oleh setiap insane Hindu. Mulculnya konsep Tri Hita Karana sesungguhnya adalah konsep keseimbangan baik secara vertical maupun horizontal.  Sesungguhnya, hidup menurut ajaran Hindu adalah sebuah pendakian diri yang semestinya dijalani oleh setiap umat Hindu dengan penuh keimanan. Hidup sebagai manusia bukanlah sebuah tujuan atau akhir dari  sebuah perjalanan lahir-hidup-mati. Hidup adalah sebuah evolusi jiwa  ke arah kesempurnaan dan ke arah kesadaran diri.

Kesadaran yang tertinggi itu akan nampak pada orang yang tekun melaksanakan tapa, brata, yoga dan samadhi. Oleh para Maharsi dan arif bijaksana diakui hal tersebut sebagai hal yang gaib dan rahasia. Demikian diungkap di dalam Kakawin Arjuna Wiwaha, sebagai berikut : “Sasi wimba haneng gatha mesi banyu, ndan asing suci nirmala mesi wulan, iwa mangkana rakwa kiteng kadadin, ring sang angambeki yoga kiteng sakala, artinya : bayangan bulan terlihat dalam tempayan yang berisi air; dalam setiap air yang bersih, dan suci hening akan jelas terlihat bulan; demikianlah Engkau, Tuhan, berada dalam setiap makhluk; dan pada orang yang melakukan yoga  Engkau menampakkan diri”.

Berdasarkan ungkapan sloka tersebut di atas, maka kesadaran tertinggi manusia adalah ketika ia telah mampu mengetahui jati dirinya, Sang Pribadi itu sendiri. Karena demikian, maka sehari setelah Sipeng yaitu pada saat Ngembakgeni atau nglabuh brata yang merupakan rangkaian terakhir dari hari Nyepi tersebut, merupakan mulainya hidup baru bagi umat Hindu, kita patut saling maaf memaafkan satu sama lain, baik antara keluarga kecil (antara suami dengan istri, antara ayah/ibu dengan anak); intern keluarga besar, yaitu antara kakek dengan cucu atau dengan cicit, dan sebagainya; maupun dengan sesama umat manusia secara keseluruhan. Dengan panjatan doa, semoga di dalam mengarungi kehidupan pada tahun-tahun berikutnya selalu diwarnai oleh kesucian terlepas dari pengaruh-pengaruh negatif kehidupan masa silam dan mengalami hidup baru dan suci; dan semoga pula Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Kuasa  menganugerahkan kepada kita jalan yang terang terlepas dari kegelapan masa silam dan dengan jiwa terang kita masuki Tahun Baru Saka 1939 ini penuh dengan harapan. Setiap perubahan bagi umat Hindu adalah peningkatan prestasi dan kualitas diri, yang membawa pada peningkatan kualitas nilai-nilai hidup. Demikian pula pada Tahun Baru Saka 1939 ini, atas limpahan berkah, rahmat dan karunianya Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, kita dapat meningkatkan kualitas diri kita masing-masing ke arah kesucian lahir dan bathin, sehingga perubahan itu dapat diarahkan kepada kehidupan yang lebih tenang, aman, nyaman, tentram, damai, sejahtra dan bahagia.

Pemaknaan terpenting dari Nyepi ini adalah bahwa kita sebagai umat Hindu diharapkan mampu mengaktualisasikan nilai-nilai Nyepi ini ke dalam kehidupan sehari-hari untuk memperkokoh rasa persatuan dan kesatuan bangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Melalui Nyepi ini, umat Hindu melakukan introspeksi diri dan re-evaluasi terhadap aktivitas yang telah lakukan selama tahun yang lalu untuk diproyeksikan pada tahun-tahun yang akan datang. Nyepi sebagai hari penemuan jati diri, dan hal ini akan dapat diwujudkan apabila kita memiliki dan mengamalkan ajaran sraddha dengan mantap dan bhakti yang tulus kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam suasana hening, ketika emosi, ambisi dan nafsu terkendali, pikiran diarahkan hanya untuk merenungkan keagungan-Nya, maka wajah sejati kita akan nampak dengan jelas.

Dalam upaya menemukan jati diri kita, problema terbesar yang harus dihadapi sesungguhnya bukanlah dunia luar, tetapi kemampuan diri kita untuk mengendalikan Panca Indriya guna mencapai keseimbangan jiwa. Panca Indriya yang tidak terkendali akan menyeret kita ke lembah penderitaan. Karena demikian, Nyepi ini adalah merupakan moument untuk membersihkan cermin diri sendiri dari kotoran dan debu-debu, baik berupa emosi, ambisi dan nafsu. Ketiga hal ini merupakan pintu gerbang yang mengantarkan Sang Diri menuju pintu neraka.

Pada hari Nyepi ini bila kita benar-benar melakukan Catur Brata dengan mantap, maka niscaya kita akan mampu menemukan hakikat diri kita. Hari Nyepi yang bermakna sebagai hari toleransi dan instrospeksi atau hari mawas diri, diharapkan dapat memperkokoh rasa kebersamaan dalam kehidupan masyarakat yang majemuk demi mewujudkan persatuan dan kesatuan, kesejahteraan dan keadilan dengan melaksanakan segala karsa dan karya yang telah dan yang akan dilakukan. Sebagai hari toleransi, Nyepi ini diharapkan dapat menumbuhkembangkan kesadaran umat Hindu bahwa meskipun terdapat perbedaan sraddha, keimanan atau keyakinan diantara sesama umat manusia, namun perbedaan itu bukanlah untuk dipertentangkan, melainkan dijadikan perekat mengekalkan persatuan dan kesatuan kita sebangsa dan setanah air. Toleransi ini akan tumbuh dan berkembang secara wajar, apabila pada setiap makhluk bersemi cinta kasih dan penghargaan kepada sesama ciptaan Tuhan. Toleransi dan saling hormat menghormati antara sesama umat manusia, yang berbeda bahasa atau berbeda kebudayaan daerahnya, berbeda agama yang dianutnya adalah suatu kenyataan yang mesti dipelihara dan dipertahankan. Hanyalah dengan toleransi yang sejati, persatuan dan kesatuan bangsa yang kokoh dapat diwujudkan.

Dengan Nyepi ini, umat Hindu diharapkan dapat memetik hikmahnya, sebagai hari kebangkitan spiritual dan kesadaran, betapa perlunya mewujudkan kebersamaan dalam rangka merealisasikan kesejahteraan bersama. Kesadaran ini diharapkan dapat mendorong setiap umat Hindu untuk mensukseskan program pemerintah, seperti mengentaskan kemiskinan masyarakat, mengurangi kesenjangan social antara mereka yang kaya atau yang berkecukupan dengan yang miskin. Untuk itu kerjasama intern, antar dan antara umat beragama dengan pemerintah dan organisasi-organisasi social kemasyarakatan guna bersama-sama mewujudkan kesejahteraan bangsa terutama mengentaskan kemiskinan masyarakat, terutama kemiskinan mental spiritual dan etos kerja mutlak perlu dilaksanakan. Dalam rangkaian itu pula maka setiap umat Hindu sudah sewajarnyalah berpartisipasi aktif dalam mensukseskan program pemerintah. Di samping itu, dalam rangka mengantisipasi dampak globalisasi dewasa ini kita hendaknya selalu bekerja keras, meningkatkan kualitas kerja dari berbagai aspek kualitas kehidupan yang dilandasi dengan sraddha dan bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dewasa ini nilai-nilai moral dan spiritual di kalangan masyarakat semakin menurun, yang ditandai dengan meningkatnya tindak-tindak kekerasan dan adanya aksi-aksi teror. Guna mengatasi semakin meluasnya hal tersebut karena akan dapat menjurus kepada disintegrasi bangsa dan mengancam keutuhan kehidupan berbangsa dan bernegara, maka perlu dilakukan langkah-langkah strategis untuk memperkokoh nilai-nilai moral dan spiritual, memperbaharui hubungan dan komunikasi social, membangun kembali rasa persaudaraan, toleransi dan saling pengertian sebagai satu keluarga besar bangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Hal ini membutuhkan pengorbanan dari semua komponen bangsa termasuk umat Hindu, hendaknya mampu mengendalikan diri dan selalu mengutamakan kepentingan nasional, membangun kebersamaan, menjunjung tinggi supremasi hukum dan hak asasi manusia, sehingga segala upaya yang tengah dilaksanakan oleh pemerintah dan masyarakat dalam mengatasi berbagai problema (masalah) yang tengah terjadi dapat mencapai sasaran dengan efektif.

Selain itu juga dibutuhkan adanya solidaritas di antara sesama warga bangsa sehingga akan terwujud suatu sinergi nasional dalam membangun bangsa secara bersama-sama. Dalam hubungan itu, umat Hindu perlu meningkatkan penghayatan terhadap nilai-nilai moral dan spiritual dengan melaksanakan ajaran agama sesuai dengan tuntunan kitab suci guna menciptakan suasana yang penuh kesucian, kesejahteraan, keadilan dan kedamaian. Dengan demikian, perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939 yang jatuh pada hari Selasa, 28 Maret 2017 ini, hendaknya dapat dijadikan momentum guna mengaktualisasikan nilai-nilai untuk membangkitkan kesadaran nasional dalam mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan bangsa dan negara Indonesia.

 

  1. Penutup (Kesimpulan)

Berdasarkan semua uraian yang telah dijelaskan di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa :

  1. Hari Nyepi merupakan tahun baru yang dirayakan sebagai peringatan Tahun Baru Saka;
  2. Tujuan tertinggi bagi umat Hindu adalah meningkatkan kualitas kehidupan sebagaimana digariskan dalam kaidah-kaidah hari suci Nyepi;
  3. Proses pelaksanaan hari Nyepi dilakukan dengan Melasti atau Melis/Mekiis), Tawur Kasanga, Sipeng, dan Ngembak Geni; dan masing-masing rangkaian Nyepi ini satu sama lain memiliki makna-makna penting di dalam kehidupan;
  4. Hari Nyepi ini merupakan momentum yang sangat baik untuk memusatkan dan merenungkan posisi diri kita yang sejati, dengan suasana yang heneng, hening dan henung kita mencari, menggali dan menciptakan rasa damai, rasa tenang, aman dan sentosa;
  5. Hari Nyepi yang merupakan hari toleransi dan instrospeksi serta hari mawas diri, diharapkan dapat memperkokoh rasa kebersamaan dalam kehidupan masyarakat yang majemuk demi terwujudnya persatuan dan kesatuan, kesejahteraan dan keadilan;
  6. Dengan Nyepi ini umat Hindu diharapkan dapat memetik hikmahnya sebagai hari kebangkitan spiritual dan kesadaran yang dapat mendorong kesuksesan program pemerintah, seperti mengentaskan kemiskinan, mengurangi kesenjangan social dan lain sebagainya;
  7. Dengan Nyepi ini, juga diharapkan dapat memperkokoh nilai-nilai moral dan spiritual, membangun hubungan dan komunikasi social, serta rasa persaudaraan dan toleransi yang tinggi dengan saling pengertian, menghargai, menghormati dan saling mengasihi sebagai satu keluarga besar bangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

Demikianlah bahasan tentang aktualisasinya Nyepi dikemukakan yang perlu diimplementasikan ke dalam praktek kehidupan sehari-hari guna membangun kehidupan yang selaras dan harmonis. Akhir kata, kami sebagai penulis menyampaikan salam damai; damai di hati, damai di dunia dan damai selalu.

Om Santih Santih Santih, Om

* Penulis adalah Dosen STAH Dharma Nusantara Jakarta