Tag Archives: kuningan

MAKNA PERAYAAN HARI SUCI GALUNGAN

Oleh : Made Awanita

 Pupuh Sinom

Becik malih ya kawitang

Ne madan Dharma walinin,

Dharma marti kepatutan,

Anggon kanti jroning urip,

Yaning patute marginin,

Sinah rahayu kapangguh,

Nging yan Adharma jalanang,

Kewehe banget puponin,

Ngawe lacur,

Bulak balik manumadi.

 

 

Om Swastyastu,

 

Umat sedharma yang saya hormati, apabila kita mendengarkan orang-orang yang sedang menyanyikan lagu-lagu daerah atau lagu-lagu keagamaan, misalnya macapat, kidung, wirama (istilah nama-nama tembang di Bali), dan lain sebagainya, serasa mengingatkan kita pada masa-masa kecil, ketika mendengarkan orang saat melantunkan pupuh-pupuh gaguritan, kidung, atau wirama. Berangkat dari hal tersebut, kiranya tulisan ini ada baiknya didahului dengan syair-syair pupuh Sinom di atas, yang tersurat dan dikutip dari Gaguritan Dharma Prawerti, oleh Ida Pedanda Kamenuh, yang berkait dengan pemaknaan Galungan. Tujuannya adalah untuk lebih memberikan inspirasi tentang pemaknaan Galungan dimaksud.

Sebagaimana kita ketahui bahwa kita hidup sebagai manusia (makhluk yang utama), agar selalu berpegang kepada Dharma. Agar betul-betul Dharma ini dapat dijadikan pegangan dan landasan dalam setiap tindakan. Karena dengan Dharma, manusia akan pasti hidupnya selamat, damai dan bahagia, serta setelah meninggal ia akan mendapatkan Sorga dan bahkan bisa mencapai Moksa. Itulah sebabnya kita patut berusaha memerangi adharma, yaitu enam musuh, terutama musuh-musuh yang ada di dalam diri manusia itu sendiri yang disebut dengan Sadripu, yaitu Kama (hawa nafsu), Lobha (keserakahan), Krodha (kemarahan), Mada (kemabukan), Moha (kebingungan), dan Matsyarya (sifat dengki atau irihati), sebagai lawan dari Dharma. Karena seseorang yang dikuasai oleh Adharma, ia akan hidup sengsara dan terjerumus ke dalam neraka. Inilah sesungguhnya makna dari pada perayaan hari Galungan. Galungan adalah  salah satu hari suci agama Hindu yang jatuh pada setiap hari Rabu Kliwon Wuku Dungulan, yang perayaannya diperingati sebagai hari kemenangan Dharma atas Adharma.

Hari Galungan yang kita rayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan itu, sesungguhnya adalah sebagai rasa cetusan kebebasan dari belenggu dan merupakan hari untuk memperingati kebenaran (dharma) terhadap ketidakbenaran (adharma), sehingga Galungan dapat merupakan suatu perjuangan hidup, yakni perjuagan manusia di dalam mempertahankan hidupnya dan untuk mewujudkan cita-citanya dengan menegakkan kebenaran, baik ke dalam dirinya maupun ke luar terhadap alam lingkungannya. Proses perjuagan ini terjadi secara terus-menerus dalam sepanjang masa, sejak zaman dahulu kala sampai dengan sekarang dan bahkan sampai pada masa yang akan datang.

Galungan yang kita rayakan setiap 210 hari sekali (6 bulan sekali melalui perhitungan “Wuku”), sebagai peringatan kemenangan dharma melawan adharma (kebatilan) itu, secara tradisionil perayaannya dilatarbelakangi oleh karena adanya penyerangan Sang Kala Tiga yang melambangkan ketidakbenaran (adharma), yang selalu ingin menyerang, menundukkan (menaklukkan), dan menguasai diri manusia.

Adapun Sang Kala Tiga yang dimaksud adalah Sang Kala  Galungan, Sang Kala Dungulan dan Sang Kala Amangkurat. Diceritakan bahwa ketiga Bhuta ini, secara bergiliran ingin menyerang manusia, yakni mulai terjadi tiga hari secara berturut-turut sebelum Galungan dirayakan. Pada hari Minggu Paing Wuku Dungulan, terjadi penyerangan oleh Sang Kala Galungan. Selanjutnya pada waktu Senin Pon Wuku Dungulan (besoknya), penyerangan dilakukan oleh Sang Kala Dungulan. Sedangkan Sang Kala Amangkurat, melaksanakan penyerangannya pada hari Selasa Wage Wuku Dungulan (sehari sebelum hari raya Galungan). Walaupun bertubi-tubi umat manusia diserang, ingin ditundukkan dan dikuasai oleh ketiga bhuta kala itu, namun berkat keteguhan iman dan ketaqwaan (sraddha dan bhaktinya) kepada Hyang Widhi Wasa, usaha ketiga bhuta kala tersebut gagal. Dan ini berarti kemenangan ada dipihak umat manusia, yang diwujudkan sebagai lambang dari kebenaran itu. Atas dasar kemenangan itulah, maka pada hari Rabu Kliwon Wuku Dungulan dirayakan sebagai hari kemenangan dan tegaknya kebenaran (dharma). “Satwam eva jayate”, artinya kebenaran pasti menang. Hal ini terjadi berulang-ulang setiap 210 hari sekali.

Hikmah dan makna apakah yang dapat kita petik dari perayaan Galungan yang kita rayakan dalam setiap 210 hari itu. Sesungguhnya Galungan adalah melukiskan betapa dan bagaimana perjuangan manusia di dunia ini untuk mempertahankan dan melanjutkan hidupnya serta jenis atau keturunannya. Perjuangan itu terjadi secara terus-menerus dalam dua segi, yakni perjuangan secara mikrokosmos (buana alit) dan perjuangan secara makrokosmos (buana agung). Jika perjuangan itu kita lihat dari segi mikrikosmos (buana alit), maka perjuangan manusia itu terjadi di dalam dirinya sendiri.

Di dalam diri manusia terdapat banyak musuh, yakni Sad Ripu dan berbagai nafsu rendah yang dapat menghancurkan diri manusia sendiri. Perjuangan sifat-sifat jahat dan buruk dengan sifat-sifat baik manusia, akan terjadi setiap saat dan terus-menerus dalam diri kita. Pergulatan antara ahamkara (sumber kejahatan) dengan budhi (sumber kebaikan) dalam diri kita terjadi setiap saat. Dan sesungguhnya perjuangan ini adalah satu pergulatan yang paling sulit dapat diatasi. Sebab, jika sraddha dan bhakti (iman dan taqwa) tidak kuat maka manusia itu akan dikuasai oleh ahamkaranya. Ini berarti bahwa secara keseluruhan manusia itu dikuasai oleh nafsu-nafsunya yang jahat yang disebut “ripu” itu, sehingga dapat terjerumus ke dalam penderitaan yang teramat sangat. Karena itu, ketiga Bhuta Kala yang dilukiskan dalam mithos tadi, harus dapat kita tundukkan dengan cara mewujudkan kesadaran dan bakti kita kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan dengan pengendalian diri yang lebih ketat. Ada pun kesadaran dan bakti serta pengendalian diri, merupakan usaha yang amat baik untuk menundukkan segala musuh (ripu) yang ada di dalam diri kita, yang berbentuk nafsu-nafsu rendah, yang dapat menjerumuskan kita ke dalam jurang kehancuran. Nafsu-nafsu yang tergolong ripu terdiri dari enam bagian atau Sad Ripu dan meliputi  Krodha adalah kemarahan, Moha adalah kebingungan, Lobha adalah keserakahan, Kama adalah hawa nafsu, Mada adalah kemabukan atau kesombongan (sombong karena kepandaian, karena kecantikan, karena keturunan/kebangsawanan, karena kekayaan, karena keremajaan, karena minuman keras dan karena kemenangan), dan Matsarya adalah sifat iri hati yang dapat menimbulkan perbuatan-perbuatan kejam, misalnya membakar hak milik orang lain, meracun, memfitnah, mengamuk, memperkosa dan melakukan ilmu sihir/hitam. Sifat-sifat jahat atau rendah tersebut, harus dapat kita kendalikan dan kuasai, dengan penuh kesadaran dan bakti kita kepada Hyang Widhi Wasa serta dilengkapi dengan pelaksanaan tapa, brata, yoga dan samadhi. Dengan perjuangan itu, kita akan mampu menegakkan dharma di dalam diri kita masing-masing, setidak-tidaknya kita dapat bebas dari kekuasaan adharma yang selalu ingin menyerang dan menundukkan serta menguasai diri kita sendiri. Galungan yang kita rayakan pada setiap hari Rabu Kliwon wuku Dungulan, di samping merupakan peringatan kemenangan dharma (kebenaran) atas adharma (kebatilan), juga bahwa Galungan tersebut memperingati kita, agar kita selalu sadar dan waspada terhadap usaha Sad Ripu dan berbagai nafsu yang tergolong jahat yang digambarkan sebagai tiga Bhuta Kala tadi agar kita terhindar dan bahkan dapat sebaliknya, yakni menguasainya.

Agaknya apa yang tersurat di dalam Weda, cukup memberikan isyarat kepada kita agar selalu sadar dan waspada kepada ripu-ripu yang ada di dalam diri kita itu. Hal tersebut dinyatakan dalam Bhagavadgita III. 34, sebagai berikut : “Hawa nafsu dan kebencian itu, berada pada indriya, sebaiknya jangan sampai seorangpun berada di bawah pengaruh kedua perasaan dan jalan kehidupan”

Lebih lanjut di dalam Bh. G. II. 64, dinyatakan : Bagi yang punya disiplin terhadap indriyanya, bergerak diantara semua objek panca indriyanya, tetapi tidak berpengaruh olehnya, malah menguasainya dengan Atmannya, ia menjalani kehidupan yang damai”. Sedangkan Bh. G. V. 23, 26 menyebutkan sebagai berikut :  “Ia yang mampu bertahan di dunia ini dan merasakan kebebasan dari badan yang dikungkung oleh nafsu dan kemarahan dan malah bisa menyelaraskan keduanya itu, ia adalah orang yang bahagia sejati. Kedamaian yang abadi bersemayam pada mereka yang tahu siapa diri mereka, dan dapat bebas dari rasa nafsu dan marah, mereka bersifat damai dan berpikiran damai”.

Demikian pula di dalam Bh. G. XVI. 21, dinyatakan sebagai berikut : “Pintu neraka ada tiga buah yang menyebabkan kehancuran diri, yaitu hawa nafsu, kebencian dan kelobhaan; hendaknya engkau (manusia) menghindari ketiga sifat ini”. Dengan demikian, betapa sulitnya, bila kita menginginkan kehidupan yang damai, bahagia lahir batin di dunia fana ini dalam rakhmatnya Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), karena itu, marilah kita bersama-sama mengusahakan dengan sekuat tenaga untuk mengalahkan segala hawa nafsu, kemarahan, kelobhaan (keserakahan), irihati, kesombongan dan kebingungan itu, sambil memupuk pikiran, perkataan dan perbuatan yang mendatangkan kebaikan bagi sesama hidup kita. Penguasaan terhadap Sad Ripu dan nafsu-nafsu yang tergolong jahat sangat penting untuk dilakukan sehingga hati kita masing-masing bisa terhindar dari segala godaan, terhindar dari maksud-maksud yang tidak baik terhadap sesama hidup dan lingkungan alam sekitar kita.

Selanjutnya, Galungan sebagai perjuangan kita dalam dunia makrokosmos (buana agung), di sini kita harus selalu berusaha dan meningkatkan pemeliharaan alam lingkungan hidup agar tetap harmonis. Karena sesungguhnya, alam lingkungan itu adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia itu. Tentunya dalam hal ini pun kita memerlukan penguasaan dan pengendalian atas nafsu-nafsu kita. Bila orang yang dapat menaklukan musuh sebanyak seribu orang (musuh) adalah disebut pahlawan, maka orang yang dapat menaklukan dirinya sendirinya pun juga disebut pahlawan. Bahkan menundukkan musuh-musuh yang ada di dalam diri sendiri (yang tergolong Sad Ripu itu), sesungguhnya tidaklah semudah menundukkan seribu musuh yang ada di dalam alam lingkungan. Maka dari itu penguasaan dan pengendalian diri, sungguh amat mutlak diperlukan dalam rangka pembentukan watak dan kepribadian yang lebih serasi dengan tantangan zaman, yakni dalam rangka menumbuhkan sikap hidup yang seimbang, serasi, berkepribadian utuh, memiliki moralitas dan integritas sosial yang tinggi serta manusia yang bakti (taqwa) kepada Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Kuasa). Sekian.-

 

Om Santih Santih Santih, Om